Tuesday, August 12, 2014

Lawatan Ukhuwah ke Bapak Angkasa dan Ibu Isnaini, Kota Yogja


Selasa, hari kedua Lebaran Aidil Fitri, 1435 H.

1. Hangatnya mentari kota Jogja mengiringi laju sepeda motor yang kami tumpangi menuju sebuah rumah yang asri di kawasan Jalan Parangtritis, Yogyakarta. Sudah ada beberapa tamu yang hadir di sana rupanya. Bapak Angkasa dan Ibu Isnaini (Ketua JAWARA Yogyakarta) beserta putra-putrinya sebagai shohibbul bayt menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah.

2. Siang ini memang cukup istimewa, karena sebagian anggota JAWARA (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara) yang sedang menikmati libur Lebaran di Kota Selaksa Makna ini akan bersilaturahim dan saling berbagi cerita.

3. Selain anggota JAWARA Yogyakarta, tampak hadir pula ketua JAWARA Bintan dan Bekasi beserta keluarga. Perbincangan mengalir dengan sangat akrab, dimulai dari pembahasan mengenai koin-koin Dirham Bintan yang telah dicetak dan akan segera diedarkan, serah terima koin Dirham British titipan beberapa anggota JAWARA Jabodetabek, pembahasan tentang koleksi buku-buku milik tuan rumah yang sangat ‘menggiurkan’ untuk ‘dilahap’ (termasuk buku-buku muamalah yang cukup lengkap), serta tentu saja yang selalu menarik dan tak ada habisnya dibahas adalah mengenai pertanian dan perkebunan yang merupakan spesialisasi dari Pak Angkasa.

4. Saat makan siang pun obrolan masih berlanjut, bahkan semakin seru ditemani hidangan yang sangat menggugah selera serta buah-buahan yang dipetik dari kebun sendiri. Putra-putri Pak Angkasa dan Ibu Isnaini juga terlihat asyik berbagi cerita dengan para tetamu dan tak terlihat canggung meski baru pertama kali bertemu. Sungguh, keluarga yang sangat menyenangkan dan pandai memuliakan tamu.


5. Kurang afdhol rasanya bila berkunjung ke rumah keluarga Pak Angkasa tanpa dilanjutkan kunjungan ke kebun beliau. Dan inilah agenda kami berikutnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kami sampai ke kebun yang luasnya hampir satu hektar di daerah Pajangan, Bantul. Pemandangan pertama yang tampak adalah sebuah rumah mungil bergaya villa yang kelihatan sangat homy dan terasa menyatu dengan lingkungan, selain karena bentuknya yang natural juga karena materialnya banyak diambil dari lokasi setempat. Seekor kucing jantan yang manja menjadi ‘penerima tamu’ siang itu.

6. Kurang afdhol rasanya bila berkunjung ke rumah keluarga Pak Angkasa tanpa dilanjutkan kunjungan ke kebun beliau. Dan inilah agenda kami berikutnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kami sampai ke kebun yang luasnya hampir satu hektar di daerah Pajangan, Bantul. Pemandangan pertama yang tampak adalah sebuah rumah mungil bergaya villa yang kelihatan sangat homy dan terasa menyatu dengan lingkungan, selain karena bentuknya yang natural juga karena materialnya banyak diambil dari lokasi setempat. Seekor kucing jantan yang manja menjadi ‘penerima tamu’ siang itu.

7. Kami diajak oleh Mas Fikri, putra pertama Pak Angkasa untuk melihat-lihat kebun yang masih bernuansa hutan, dengan kontur tanah yang naik turun, tumbuhan semak di beberapa lokasi, juga daun-daun jati kering yang bertebaran di tanah dan memperdengarkan bunyi yang khas ketika terinjak (atau sengaja diinjak) oleh orang yang melewatinya. Pohon-pohon pepaya yang buahnya sangat ranum (sebagian sudah terhidang di meja makan tadi siang) cukup mendominasi pandangan mata. Juga tampak beberapa tanaman bunga yang ikut mencerahkan suasana dengan warna-warni indahnya.

8. Banyak terlihat galon bekas wadah air mineral berisi air ditempatkan di beberapa lokasi, yang ternyata berfungsi untuk menjaga kelembaban di area sekitarnya. Juga nampak pipa-pipa saluran air yang saling bersambungan. Di bawah naungan pepohonan tampak seekor kucing betina peliharaan keluarga sedang menikmati teduhnya suasana. Setelah menerobos ‘hutan’ mini tersebut, kami sampai di bagian atas kebun (yang cukup tinggi). Terlihat pemandangan perbukitan di Wilayah Bantul di kejauhan sana. Cantik.

9. Cerita masih berlanjut seputar penggarapan kebun dan berbagai hal menarik lainnya termasuk berbagi pengalaman mengenai ‘hunting’ lokasi pertanahan di Yogyakarta dan sekitarnya.
Tak terasa mentari semakin tinggi, kami kembali menelusuri ‘hutan’ kebun menuju ke rumah villa dan melaksanakan Sholat Dhuhur. Meski masih ingin berbincang, namun tugas silaturahim selanjutnya telah menanti dan kami harus berpamitan. Beberapa buah pepaya berukuran jumbo yang dipetik sendiri oleh yang empunya menjadi buah tangan untuk kami bawa pulang.

10. Alhamdulillah, pertemuan yang singkat namun hangat dan penuh selaksa makna. Memang, sejatinya manusia akan kembali ke fitrahnya. Seperti dikutip dari kata-kata Pak Angkasa, bahwa “Tanah adalah sumber penghidupan kita. Disini kita menanam, memelihara, dan menikmati hasilnya. Jadi sudah selayaknya kita mengembalikan apa yang telah kita ambil, bertani dengan cara yang baik (sebisa mungkin gunakan bahan-bahan alami, bukan bahan kimia sintetis)”. Itulah yang terbaik bagi manusia, kembali kepada apa yang telah diberikan dan ditentukan oleh Rabb-nya, dan kembali bersahabat dengan alam serta segala sesuatu yang alami, bukan yang palsu/buatan.
Semoga kita semua dapat meneladaninya.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H.
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘aamin wa antum bikhair.
Semoga Allah menerima amalan dari kami dan amalan kalian, puasa kami dan puasa kalian, semoga kebaikan menyertai kalian sepanjang tahun.6. Kami diajak oleh Mas Fikri, putra pertama Pak Angkasa untuk melihat-lihat kebun yang masih bernuansa hutan, dengan kontur tanah yang naik turun, tumbuhan semak di beberapa lokasi, juga daun-daun jati kering yang bertebaran di tanah dan memperdengarkan bunyi yang khas ketika terinjak (atau sengaja diinjak) oleh orang yang melewatinya.
Pohon-pohon pepaya yang buahnya sangat ranum (sebagian sudah terhidang di meja makan tadi siang) cukup mendominasi pandangan mata. Juga tampak beberapa tanaman bunga yang ikut mencerahkan suasana dengan warna-warni indahnya.

6. Banyak terlihat galon bekas wadah air mineral berisi air ditempatkan di beberapa lokasi, yang ternyata berfungsi untuk menjaga kelembaban di area sekitarnya. Juga nampak pipa-pipa saluran air yang saling bersambungan. Di bawah naungan pepohonan tampak seekor kucing betina peliharaan keluarga sedang menikmati teduhnya suasana.

7. Setelah menerobos ‘hutan’ mini tersebut, kami sampai di bagian atas kebun (yang cukup tinggi). Terlihat pemandangan perbukitan di Wilayah Bantul di kejauhan sana. Cantik. Cerita masih berlanjut seputar penggarapan kebun dan berbagai hal menarik lainnya termasuk berbagi pengalaman mengenai ‘hunting’ lokasi pertanahan di Yogyakarta dan sekitarnya.
8. Tak terasa mentari semakin tinggi, kami kembali menelusuri ‘hutan’ kebun menuju ke rumah villa dan melaksanakan Sholat Dhuhur. Meski masih ingin berbincang, namun tugas silaturahim selanjutnya telah menanti dan kami harus berpamitan. Beberapa buah pepaya berukuran jumbo yang dipetik sendiri oleh yang empunya menjadi buah tangan untuk kami bawa pulang.

9. Alhamdulillah, pertemuan yang singkat namun hangat dan penuh selaksa makna. Memang, sejatinya manusia akan kembali ke fitrahnya. Seperti dikutip dari kata-kata Pak Angkasa, bahwa “Tanah adalah sumber penghidupan kita. Disini kita menanam, memelihara, dan menikmati hasilnya. Jadi sudah selayaknya kita mengembalikan apa yang telah kita ambil, bertani dengan cara yang baik (sebisa mungkin gunakan bahan-bahan alami, bukan bahan kimia sintetis)”. Itulah yang terbaik bagi manusia, kembali kepada apa yang telah diberikan dan ditentukan oleh Rabb-nya, dan kembali bersahabat dengan alam serta segala sesuatu yang alami, bukan yang palsu/buatan.
Semoga kita semua dapat meneladaninya.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘aamin wa antum bikhair.
Semoga Allah menerima amalan dari kami dan amalan kalian, puasa kami dan puasa kalian, semoga kebaikan menyertai kalian sepanjang tahun.

No comments: